CERDAS.. Begini Ulasan Inspektur IV Kejagung Soal Landasan Filosofis Penyidikan, Tambahan dalam RUU Kejaksaan

BERITA.NEWS, Makassar – Pasal pemberian kewenangan kepada Kejaksaan untuk melakukan penyelidikan tambahan di sorot oleh pengamat Kepolisian karena dapat beririsan dengan tugas Kepolisian. Namun hal itu dibantah oleh Inspektur IV Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan, Dr Chaerul Amir.

Kata Chaerul Penyidikan tambahan tak ujug ujug lahir. Ada landasan filosofis mengapa wewenang itu harus ada di Kejaksaan. Yang termaknakan dalam logo Kejaksaan. Timbangan.

Logo timbangan itu kata Chaerul menggambarkan kalau Kejaksaan harus menjadi penyeimbang, menangkap semua aspek dengan berlandaskan hati nurani.

” Ia tidak menggunakan Kacamata kuda dalam menerapkan hukum, Ia harus menangkap segala aspek yang ada, mempertimbangkan semua hal agar memberi rasa keadilan, itulah kenapa penyidikan tambahan ini harus melekat, keseimbangan itu yang kita cari,” katanya, ” karena dibeberapa kasus kadang keterangan saksi dipenyidikan berbeda dengan apa yang terungkap dipengadilan,” sambungnya

Guru Besar Hukum Pidana Universitas Hasanuddin, Prof Said Karim menjelaskan kalau penyedikan lanjutan itu bukan hal baru. Ia menilai keliru bila ada anggapan penyidikan tambahan hanya untuk memperluas kewenangan Jaksa, sebab kewenangan penyidikan lanjutan ini sudah termanifestasikan dalam sistem peradilan terpadu. ” Dan saya rasa wajar jika Kejaksaan menegaskan itu kedalam Undang – Undang,” katanya

Baca Juga :  KPK Panggil Mantan Anggota DPR RI sebagai Saksi Kasus KTP-el

kata Prof Said dalam sistem peradilan pidana terpadu Kejaksaan dimungkinkan untuk melakukan penyidikan tambahan, ” Apalagi kalau berkasnya bolak balik,” tuturnya.

Hanya saja kata Ia Jaksa
hanya dibolehkan untuk melakukan pemeriksaan kepada saksi saksi tanpa mengonfirmasi keterangan itu kepada tersangka ” jadi tidak ada penambahan kewenangan, hanya dipertegas saja membolehkan pemeriksaan kepada tersangka itu, karena susah juga misalnya keterangan saksi itu tidak dikonfirmasikan kepada tersangka,” ujarnya

Sementara itu Dekan Fakultas Hukum Unhas Prof Farida Patittingi mengatakan revisi undang undang kejaksaan tidak boleh dilihat sebagai upaya untuk menambah kewenangan Kejaksaan. “Melainkan mengharmonisasikan, mensinkronkan kewenangan kewenangan karena ujungnya untuk masyarakat,” ujarnya

Baca Juga :  Benny Tjokro Divonis Penjara Seumur Hidup dan Bayar Uang Pengganti Rp6,078 Triliun

Ia mengatakan revisi undang undang kejaksaan ini harus menjadi awal untuk menagaskan kembali kedudukan Kejaksaan sebagai lembaga penegak hukum.

“Dalam konstitusi, lembaga kejaksaan tidak disebut secara tegas dan menimbulkan ambiguitas, disatu sisi lembaga Yudikatif dan disilain ia lembaga eksekutif, ini yang harus dipertegas dalam RUU,” katanya

Kata Prof Farida kegangaman ini menjadikan kejaksaan menjadi tidak independen dalam menjalangkan fungsinya ” sehingga selama ini apa yang terlihat peran Kejaksaan lebih menonjol peran eksekutifnya dibanding pelaksanaan tugasnya sebagai fungsi kehakiman,” ujarnya

Sehingga Ia memberikan opsi Kejaksaan keluar dari Eksekutif supaya Independen dalam menjalankan fungsinya, ” atau tetap dibawah Eksekutif namun tugas dan kewenangannya harus dipertagas,” katanya

loading...