Demi Warisan, Anak Kandung Diduga Sekap Ibunya Hingga Meninggal Mengenaskan

BERITA.NEWS, Bima – Jenazah Almarhumah Habibah H. Mansyir terlihat menggenaskan. Jasadnya tinggal kulit membalut tulang. Pensiunan pegawai di Dinas Peternakan Pemerintah Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), ini menghembuskan napas terakhir pada 20 Juli 2020.

Istri dari Almarhum Hasan Zakariah ini, diduga disekap oleh anak kandungnya yang ke – 4, Johariah. Johariah dinilai serakah oleh beberapa saudara kandungnya.

Anak kandung (alm) Hasan Zakariah dan (alm) Habibah H. Mansyir sendiri berjumlah 8 orang. Di antaranya Nurul Kamari, Abdul Haris, Nurjanah, Johariah, Mariani, Saleha Hasan Zakariah, Salmah, dan Farid Hasan Zakariah.

Namun dari sekian itu, Johariah sedikit berseberangan dengan saudara lainnya, terutama Nurul Kamari, Saleha Hasan Zakariah dan Farid Hasan Zakariah.

Bahkan, Johariah yang tercatat sebagai mantan Inspektorat Bima dan saat ini berdinas di Sekretariat Dewan Bima, itu diduga kerap bersekongkol dengan Abdul Haris dan Salmah. Abdul Haris adalah mantan Lurah Pancoran dan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Betapa tidak, motif di balik kematian Habibah lantaran Johariah diduga ingin menguasai separuh harta warisan peninggalan sang ayah. Sang ibu yang diketahui membongkar rencana jahat mereka, diduga harus mendapatkan perlakuan tak terpuji dari anak kandungnya sendiri.

Tak hanya sang ibu, Nurjanah pun seakan diduga mendapatkan perlakuan yang sama. Kini, kondisi perempuan yang berprofesi sebagai tenaga pengajar itu tinggal kulit membalut tulang. Dugaannya, Nurjanah disantet.

“Kakak saya itu mengaku selalu lihat darah mengalir di dingin rumah maupun sekolah,” kata Ela – sapaan akrab – Saleha Hasan Zakariah, yang telah memperkarakan kasus ini di polisi.

Termasuk Mariani. Kondisinya sama seperti Nurjanah. Bedanya, perempuan bergelar Doktor sekaligus mantan dosen yang dikenal vokal ini, mulai sakit – sakitan akibat mengalami depresi berat, lantaran skenario berupa teror yang diduga dimainkan Johariah.

Padahal, kala itu, sebagian tanah milik Hasan Zakariah telah dia wariskan ke semua anak – anaknya. Bahkan, dua anak laki – laki dari 8 bersaudara itu dibagi lebih dari ketentuan hukum Islam.

Hasan Zakariah. Wiraswasta yang hartawan ini, juga dikenal sebagai seorang dermawan di Bima. Hampir semua tanah yang dimiliknya telah dihibahkan untuk kemaslahatan umat. Salah satunya seperti pembangunan masjid.

“Itu (pembagian tanah) atas kesepakatan kami bersaudara, kecuali saya. Karena saya hidup di Kota Makassar. Jadi saya serahkan semua keputusan ke mereka,” ucap anak ke – 6 ini.

Bagi Ela, semua keputusan saudaranya, itulah yang terbaik. Ela sendiri tidak pernah ambil pusing soal harta warisan ayahnya. Bahkan tidak ada sikap keberpihakan di antara saudara – saudaranya.

 


 

Dugaan Persekongkolan di Balik Kematian Sang Ibu

Saat itu, Habibah menderita diare. Lantaran di rumah sendirian, bergegaslah Habibah ke rumah keponakannya, Jumiati, yang tercatat masih sepupu satu kali dengan anak – anak Habibah.

Maklum. Di rumah induk, Habibah dirawat oleh Farid dan istrinya. Termasuk Nurul dan suaminya. Sementara, dua kakak – beradik ini punya kesibukan di luar. Termasuk istri dan suami mereka.

Nurul yang tahu ibunya tidak berada di rumah, akhirnya menyuruh Farid mencari ibu mereka di rumah Jumiati. Saat itu Farid menemukan Salmah di rumah Jumiati.

Selama tiga hari dirawat di rumah Jumiati, tiba – tiba datang Johariah menjemput ibunya, untuk dibawa ke Kelurahan Sadia. Bahkan dalam kesempatan itu, tak lupa Jumiati diberi uang Rp100 ribu. Entah apa motifnya.

Sejak saat itu, Farid dan Nurul tak pernah tahu kabar ibunya setelah berada di kediaman Mariani, Kelurahan Sadia, Bima. Mertua dari H. Muhammad AR. BA, mantan Asisten I Pemda Bima, Kepala Dinas Kehutanan, Kepala Dinas Pariwisata, dan juga selaku mantan Kepala BKD Bima itu, pun tak pernah kembali ke rumahnya.

Bahkan Nurul dan Farid tidak pernah bertemu ibu mereka lagi. Habibah pun akhirnya menetap di rumah Mariani kurang lebih 10 tahun. Ironisnya, Mariani dan ibunya dalam kondisi memprihatinkan.

Pada 1 Oktober 2019, Habibah sempat dijemput oleh anak – anaknya dibawa pengawalan Anggota Bhabinkamtibmas Briptu Wahyudi, dua anggota Reskrim Polres Bima yang diketahui bernama Iwan dan Awan, Wakil Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Wahab, anggota Babinsa Serka Abubakar, dan disaksikan Ketua RT – 13, Fathur Syakirin, Ketua RW 03, Muhammad Saleh, dan Lurah Sadia, Abdul Rajak. Saat itu, kondisi Habibah cukup memprihatinkan.

Dengan melihat ibunya seperti itu, Ela sempat berkeinginan membawa Habibah ke Kota Makassar. Namun saudara – saudaranya, termasuk Habibah sendiri, tidak mau. Sebab wasiat dari almarhum ayah mereka, sang ibu tidak boleh dibawa keluar dari Bima.

“Akhirnya, baiklah. Biar ibu dirawat di rumahnya kak Nurul,” kata Ela. Karena menurut Ela, rumah orang tua mereka pun dikuasai oleh Johariah bersama Abdul Haris dan Salmah yang disebut Ela, dibawa kendali Johariah.

Di rumah Nurul, Habibah pun membongkar semua siasat jahat yang dimainkan Johariah serta Abdul Haris dan Salmah. Terutama perihal Abdul Haris menjual tanah. “Tapi tidak tahu tanah mana yang dijual,” kata Ela.

Pada 3 Februari 2020, atau sekira 4 bulan pasca dibebaskan, Habibah pun kembali diambil paksa oleh Abdul Haris dan Salmah dari rumah Nurul. Dalam penjemputan itu, Abdul Haris beralibi ingin mengajak sang ibu makan ikan bakar di wilayah Panda.

Tapi Nurul bilang, ibu harus dimandikan dulu. Sayangnya, Nurul tak diberi kesempatan oleh Abdul Haris. Habibah pun ditarik paksa keluar dari rumah, dengan sendal yang hanya digunakan sebelah tanpa mengenakan jilbab. Pun pakaian yang dipakai Habibah mengeluarkan bau kencing.

Tapi Habibah kemudian dibawa kembali ke Kelurahan Sadia dan menempati rumah Mariani, yang masih satu halaman dengan rumah Johariah. Hampir sekitar 10 tahun di rumah Mariani, Habibah diduga sengaja diabaikan oleh anaknya yang ke 4, 2, dan 7 itu.

Dalam kesaksian Ela saat menjemput ibunya di rumah Mariani – tempat Habibah diduga disekap – sang ibu tidak dilayani kebutuhan makan – minumnya. Habibah hanya mengkonsumsi air sumur yang dimasak. Kamar mandi pun dibiarkan kotor.

Bahkan di dapur rumah, ayam – ayam ternakan Johariah sengaja dipelihara di situ. “Kamu bayangkan bagaimana kondisinya itu rumah,” katanya. “Ini berbanding terbalik dengan rumah Johariah yang serba ada.”

Habibah pun menghembuskan napas terakhir pada 20 Juli 2020 di kediaman Mariani. Tubuhnya hitam legam dengan kulit membalut tulang. Kasus ini pun telah dilaporkan ke Polres Bima, dan tengah diusut hingga sekarang.

 

Mengendap di Ruang Penyidik Tanpa Kejelasan

1 Oktober 2019, Habibah dijemput dengan kondisi memprihatinkan. Anggota polisi, TNI, hingga setingkat RT, RW, Lurah, dan warga setempat, turut menyaksikan langsung detik – detik penjemputan itu.

Habibah pun dibawa ke rumah Nurul. Namun pada 3 Februari 2020, Habibah kembali diambil paksa oleh Abdul Haris, dan akhirnya meninggal pada 20 Juli 2020 di rumah Mariani dengan kondisi mengenaskan.

Baca Juga :  Kejagung Periksa Andi Irfan Jaya di Kantor KPK

Sejak dilaporkan oleh Ela ke Polres Bima pasca 3 hari Habibah dijemput, Nurul pun turut melayangkan laporan terkait pengambilan paksa sang ibu oleh Abdul Haris di hari yang sama.

Namun sampai hari ini, tak ada kepastian hukum dari tim Penyidik Polres Bima, atas dua laporan dari kakak – beradik itu. Kasus yang ditangani oleh Aiptu Wayan Mariane ini, seakan mengendap tanpa kejelasan.

“Padahal, semua bukti ada. Bahkan kasus ini sudah gelar perkara. Tapi menurut Pak Wayan, dalam kasus ini unsurnya lemah,” ucap Ela.

Padahal, kata Ela, ketika ibunya diambil paksa oleh Abdul Haris, perkara ini masih dalam proses hukum. Menurut Ela, seharusnya dari peristiwa kedua dengan fakta – fakta awal yang ada, pihak yang terlibat dalam perkara ini sudah harus ditahan.

“Tidak perlu diproses lagi. Karena proses hukumnya kan sementara jalan. Dan Pak Wayan harus membedakan, mana masalah keluarga dan mana masalah hukum. Masa setiap berkaitan dengan Haris, selalu disebut masalah keluarga,” katanya.

Ela mengaku telah menyampaikan perihal ini ke salah seorang Kepala Bidang (Kabid) Operasional Reskrim Polres Bima. Termasuk memperlihatkan video detik – detik penjemputan awal Habibah di rumah Mariani. “Saat itu pak kabidnya bilang, wah ini biadap ni. Jadi dia minta tunggu sampai gelar perkara,” kata Ela.

Bahkan, menurut Ela, ibunya sendiri yang meminta untuk tidak dikembalikan lagi di rumah anaknya bernama Mariani, yang satu lingkungan dengan Johariah itu. “Ibu takut disiksa lagi. Ibu tidak kuat dengan kondisi di sana (situasi di rumah Mariani),” katanya.

Namun Wayan seakan tidak pernah merespon. “Alasannya dilidik, dilidik, dilidik,” kata Ela. Informasinya, lanjut Ela, diminta waktu untuk menunggu hingga 3 – 4 bulan ke dapan. “Saat itu dipastikan, bahwa akan ada tersangkanya,” katanya.

“Saya sudah kirim foto – foto kondisi ibu setelah penyekapan, video saat ibu diambil dari rumah Mariani, hingga pengakuan ibu bahwa dirinya tidak dikasi makan, dan tindakan – tindakan yang menyerang psikis ibu, tapi Pak Wayan malah bilang, unsurnya lemah,” tambahnya.

Persoalan ini pernah dikonsultasikan Ela ke seorang pakar hukum. Dari perspektifnya, kata Ela, kasus ini unsurnya dinilai cukup kuat. “Dia bilang, loh ini sudah pidana ini. Kenapa tidak ditahan,” ujar Ela.

Tapi lagi – lagi, Wayan beralasan kasusnya masih sementara dilidik. “Kita masih cari saksi – saksi di luar keluarga kandung,” kata Wayan suatu ketika ke suami Ela, Aiptu Jamaludin, Kasubnit 01 Turjawali Sabhara Polres Gowa, Polda Sulawesi Selatan, sembari mengaku sempat turun ke TKP setelah Habibah dievakuasi.

“Saya datang dari Mataram, ternyata laporannya turun ke saya. Sehingga laporannya lama baru saya terima,” kata Wayan menambahkan.

31 Oktober 2019, Wayan kembali menyampaikan, bahwa kasus ini masih dalam tahap lidik. Bahkan dia mengaku sudah bertemu dengan Nurul. “Kalau Haris ketemu ambil orang tuanya, saya tidak bisa menghalangi. Itu (urusan keluarga) anak dan orang tua,” ucap Wayan memberikan keterangan ke suami Ela.

Pada 15 – 16 Januari 2020, Wayan kembali ditanya oleh suami Ela, bahwa apakah selama menangani kasus dugaan penyekapan ini, penyidik pernah menerbitkan SP2 hasil penyelidikan pada pihak pelapor, agar diketahui perkembangan kasusnya.

Kabarnya, SP2 sudah diberikan ke Farid. Tapi hanya sekali dalam 10 bulan. Sementara, Wayan masih tetap dengan jawaban yang sama. “Saya tidak bisa menjelaskan tentang penahanan dan perkara masih dalam lidik,” katanya.

Sekadar diketahui, sebelum dilaksanakan gelar perkara, terdapat 5 orang yang memberikan persaksian, yaitu Lurah Sadia Abdul Rajak, Ketua RW 03 Muhammad Saleh, Ketua RT 13 Fathur Syakirin, Babinsa Serka Abubakar, dan Bhabinkamtibmas Briptu Wahyudin.

Lalu disusul Farid Hasan Zakariah dan H. Jaelani, serta adik kandung Habibah, yaitu Rohana dan Mustamin, yang berstatus sebagai keponakan Jumiati. Rohana sendiri sempat diperiksa sekali.

Wayan sempat mengaku mencoba menghadirkan saksi bernama Rohana dan Suriyadin. Namun keduanya, disebut Wayan, belum berkesempatan hadir. Penyidik pun kembali memeriksa Habibah, untuk menkonfirmasi isi video dan meminta keterangan tambahan.

Namun Wayan beralasan, keterangan dari Habibah sangat berbeda dengan hasil rekaman di video. Penjelasan itu dinilai janggal oleh Ela. Karena Habibah sudah berusia 80 tahun.

“Secara naluri, tentu ibu sulit mengingat kembali apa yang terjadi. Kecuali jika diperlihatkan video tersebut, dan menanyakan siapa yang berbicara. Itu pun mungkin agak sulit, karena usia ibu sudah sepuh,” kata Ela.

Kini, hampir setahun – atau tepatnya 10 bulan – setelah kasus tersebut dilaporkan, belum ada kepastian hukum. Sampai pada akhirnya, Habibah meninggal dalam kondisi menggenaskan.

Sementara, laporan resmi yang ditujukan ke Kasat Reskrim Polres Bima, pun belum ada kelanjutan informasi. Dalam kondisi ini, pihak pelapor menilai, para terlapor seakan kebal hukum.

Dikonfirmasi terakhir, kasus dugaan penyekapan tersebut disebut Wayan, masih lidik. “Saya nda bisa (berikan keterangan), lagi rapat ini. Belum bisa berikan (keterangan). (Saya) lagi di ruangan,” tandas Wayan kepada berita.news.

 

 

Membantah Seluruh Tudingan

Abdul Haris, kepada berita.news beberapa waktu lalu, mengaku dari hasil olah TKP yang dilakukan Polres Bima, tidak terbukti adanya penyekapan terhadap ibu kandungnya. “Jadi selesai urusan. Lalu ada apa lagi,” tandas anak ke – 2 dari 8 bersaudara ini.

Dia mengakui bahwa dalam kasus ini sudah dilakukan gelar perkara. Namun soal siapa tersangkanya, dikatakan Haris, kakaknya Nurul Kamari dan dua adiknya, Saleha Hasan Zakariah dan Farid Hasan Zakariah. “Tersangkanya adalah mereka yang melaporkan kasus ini (di Polisi),” katanya.

Terkait tudingan bahwa dirinya menjemput sang ibu dari rumah Nurul dengan sedikit memaksa, yang kemudian berujung pada laporan polisi, ditampik Haris.

“Sedikit memaksa bagaimana. Waktu mereka datang (jemput ibu) dan buat laporan (di polisi), bahwa kami menyekap ibu, tahu tidak, berapa tahun kami melayani ibu kami di rumah adik saya?. Cuman saya berdua sama ibu saya kok,” ujarnya.

Bahkan Mariani yang berstatus doktor itu, kata Haris, rela berhenti mengajar sebagai dosen untuk mengurus ibunya. “Karena kakaknya sama adik – adiknya itu PNS,” ucapnya.

Haris membantah bahwa Mariani berhenti dari dosen lantaran tertekan akibat teror yang diduga dilakukan oleh Johariah, sebagaimana yang diceritakan oleh Ela.

“Tidak ada yang begitu. Dosen kok dia. Enggah ada itu (teror). Aduh, jangan dengarin di sebelah (Nurul, Ela, Farid). Itu iblis semua itu. Bukan manusia. Kalau manusia tidak seperti itu. Dia harus cerita apa yang benar – benar terjadi,” tuturnya.

Terkait foto – foto kondisi jenazah almarhumah Habibah yang cukup menggenaskan, diakui oleh Haris. “Memang menggenaskan. Selama 4 bulan, kakak saya yang pertama (Nurul) itu, dia tidak merawat ibu dengan baik. Puluhan tahun kita urus ibu kita. Selama di Malang juga, dia dibawa berobat,” katanya.

Baca Juga :  Sejumlah Kasus Perampokan Dibongkar Polda Jateng dalam 6 Bulan

Soal tudingan bahwa sang ibu tidak dilayani selama berada di rumah Mariani, pun dibantah Haris. “Oh, lihat dong ketika saya ambil kembali setelah mereka datang ambil ibu dari rumah saya. Ibu saya gemuk, sehat,” katanya.

Menurut Haris, terkait keinginan Habibah yang enggan dibawa kembali di rumah Mariani setelah berada di rumah Nurul, karena ada tekanan dari saudara – saudaranya itu.

Intinya, lanjut Haris, apa yang disampaikan almarhumah Habibah ke anak – anaknya yang mengarah ke Johariah, Salmah dan dirinya, karena dalam tekanan tiga saudaranya, Nurul, Saleha dan Farid.

Menurut Haris, saat sang ibu diambil dari rumah Mariani dan dibawa ke rumah Nurul, kondisinya sehat. “Jadi bukan memaksa. Ibu saya menangis kok,” ungkapnya.

“Setelah saya datang ambil ibu, dari Polres langsung datang dan tanya ibu saya, enak mana, di sana (rumah Mariani) atau di sini (rumah Nurul). Ibu saya bilang, ini sama seperti kejatuhan bulan. Tanya itu penyidiknya, Pak Iwan,” tuturnya.

Terkait video detik – detik awal penjemputan Habibah di rumah Mariani, menurut Haris adalah tipuan yang dilakukan Nurul dan Saleha.

“Karena begitu mereka mengambil ibu saya, tanah berupa sawah yang dipermasalahkan itu, setiap tahun ibu saya yang lelang, bukan digadai. Itu sekitar 5-6 bulan lalu, mereka gadai ke orang lain,” katanya.

Disebut bahwa tujuan digadaikan itu agar tidak dimanfaatkan untuk kepentingan Johariah, Salmah dan dirinya, Haris tertawa. “Hehehe… hidup kita cukup,” tandasnya, sembari menyimpulkan bahwa proses dari kasus tersebut sudah selesai.

“Udah enggak ada urusan lagi. Soal video, udah enggak ada urusan lagi. Sudah selesai. Sekarang Polres lagi proses. Jadi mereka yang laporkan itulah yang sedang diproses. Jadi mulai dari kronologi pengambilan ibu saya itu, sudah tidak ada masalah lagi. Tapi mereka (Nurul, Saleha, Farid) yang akan bermasalah,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Johariah. Menurut dia, kasus tersebut sudah ditangani polisi dan dari hasil olah TKP, tidak terbukti adanya dugaan penyekapan tersebut.

“Memang informasi dari Polres, kasus ini masih sementara lidik, tapi pada saat tim dari pihak kepolisian datang olah TKP, tidak ada pemasangan garis polisi (police line),” ucapnya.

Anak ke – 4 dari 8 bersaudara ini mengaku sudah di BAP. Namun dirinya kembali mempertanyakan sikap Saleha ketika ayah mereka, Hasan Zakariah hingga sang ibu Habibah H. Mansyir meninggal, dimana keberadaan saudaranya itu.

“Bapak meninggal saja dia (Saleha) tidak datang kok, ibu meninggal juga enggak datang. Mereka gadaikan tanah ibu saya juga, aduh mohon maaf, saya tidak bisa berkomentar banyak. Nanti di pengadilan aja. Saya tunggu di pengadilan,” tandasnya, sembari menyebut kasus ini masih tetap berlanjut dan bukan hanya satu perkara.

Menyentil detik – detik penjemputan sang ibu yang dikawal Anggota TNI/Polri, Lurah, hingga RT/RW diakui oleh Johariah. Bahkan saat sang ibu kembali dijemput oleh Haris di rumah Nurul.

“Saya tidak bisa menjelaskan banyak (soal itu). Aduh, saya kasihan dengan ibu saya. Ibu saya itu terpuruk, bukan karena disekap. Ibu tidak diambil paksa, Haris bertanggung jawab. Hukum Islam kita bicara,” katanya.

Bahkan Johariah membantah tudingan bahwa ibunya tidak dilayani selama menetap di rumah Mariani yang masih satu lingkungan dengan rumahnya.

“Justru di tempat kakak saya (Mariani) itu, menurut pengakuannya, hanya ikan teri dengan piring. Jadi yang tangani ibu saya itu Mas Tri, dia di kesehatan polisi, coba tanya dia,” katanya.

 

Siap Menyelesaikan di Pengadilan

Ditambahkan Johariah, bahwa saudara – saudaranya itu pun tidak tahu kalau ibunya telah menjalani umrah yang dibiayai oleh dirinya. “Dan sewaktu ibu di Malang, dia ditangani oleh Dokter Handono Halim. Jadi mereka itu tidak tahu. Mereka hanya ingin kuasai seluruh harta ibu. Jadi selesai ya, saya tunggu di pengadilan,” tuturnya.

Bahkan, Johariah mengaku punya video saat Haris menjemput sang ibu di rumah Nurul. “Saya punya videonya juga. Jadi saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar, kita tunggu di pengadilan,” katanya.

Sementara, terkait video sang ibu memberikan keterangan selama berada di rumah Mariani, Johariah tak mau ambil pusing. “Silakan, itu video sudah beredar di mana – mana. Saya juga punya video bagaimana ibu meninggal di pangkuan saya sendiri, dan mereka bilang ibu meninggal di malam hari, saya punya foto kok, punya video, ibu masih sempat mengaji,” katanya.

Seluruh bukti, kata Johariah, sudah dikantongi oleh penyidik Polres Bima. “Jadi kasus ini bukan cuman satu, tapi hampir 3 – 4 kasus. Masih banyak. Justru itu, saya akan tuntut kembali beredarnya video pengakuan ibu, siapa yang video, siapa yang sebar, saya tahu orangnya,” pungkasnya.

Kembali ditegaskan Johariah, bahwa semua tudingan – tudingan dugaan penyekapan sang ibu bisa ditanyakan ke Tri. “Dia di bagian kesehatan. Boleh tanya ke sana, kalau memang ibu saya disebut disekap. Jadi dalam kasus ini kami tidak akan terpancing, karena kami sangat memahami semuanya,” ucapnya.

Johariah berpesan, untuk Nurul dan Ela, perlakukanlah ibumu seperti raja agar rezekimu seperti raja. “Makanya rezeki saya seperti raja, itu yang saya pegang. Tapi mereka (Ela) yang tidak datang ini, karena mereka tidak puas aja,” katanya.

Ukurannya, lanjut Johariah, kalau orang tua meninggal tidak datang, tapi hanya 3 – 4 kali bolak balik datang mengurus tanah, logikanya di mana. “Saya tahu siapa orangnya yang perkarakan ini. Karena polisi juga sudah cerita ke saya,” tuturnya.

Sayangnya, Johariah tidak mengubris saat ditanya, polisi siapa yang dimaksud. “Nanti di undang – undang ITE kita main. Dari video itu, siapa yang rekam, siapa yang edarkan, saya tunggu itu di pengadilan,” katanya.

Di akhir penjelasan, Johariah bilang, masalah penyekapan ini sudah basi. “Sebab kalau memang terbukti itu penyekapan, bagaimana mungkin, ibu saya di kamar. Mereka (di rumah Nurul) tidurkan ibu saya di sana, bukan di kamar tidur. Tapi di ruang tv,” katanya.

“Itu sudah basi, tidak penting itu. Tinggal tunggu pengadilan saja. Sudah ditangani Polres Bima. Jadi silakan tanya di Polres, karena proses hukumnya di sana,” tambah Johariah mengakhiri. (*)

loading...