Polres Parepare Tangani 14 Kasus Kekerasan Seksual pada Anak

ilustrasi: net

BERITA.NEWS, Parepare – Kasus kekerasan seksual pada anak di Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada periode Januari hingga Juli 2020 naik 20 persen. Ada 14 kasus kekerasan seksual pada anak yang kini ditangani Polres Parepare.

“Kalau dibanding Januari hingga bulan Juli 2019, kasus kekerasan seksual 2020 dengan bulan yang sama ini meningkat, sekitar 20 persen, karena sampai bulan Juli ini sudah 14 kasus kekerasan seksual yang kami tangani,” ujar Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Parepare, Aipda Dewi Natalia Noya dalam keterangannya di Parepare, Kamis (23/7/2020).

Dewi mengatakan, dari 14 kasus yang ditangani polisi, 7 kasus sudah lengkap hasil penyelidikannya (P21) dan dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Parepare. Sementara 7 kasus lainnya masih dalam penyelidikan polisi.

Baca Juga :  Empat Petani Diduga Dibunuh Kelompok MIT, Sejumlah Barang Milik Korban Diambil

“Apakah ini akan bertambah, kami belum tahu pasti, karena ini kan baru bulan Juli. Dari 14 kasus, 7 diantaranya sudah P21 dan lainnya SPDP,” katanya, mengutip Detikcom.

Meningkatnya kasus kekerasan seksual pada anak di Kota Parepare hingga pertengan tahun 2020 ini memang dinilai sangat tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dipicu semakin leluasanya anak menggunakan internet dan tanpa diiringi pengawasan ketat orang tua.

“Memang anak-anak diberikan keleluasaan memainkan sosial media, apalagi aktivitas anak di tengah pandemi COVID-19 ini yang berada di rumah. Karena dari beberapa kasus juga, pelaku kekerasan seksual dari orang terdekat,” ungkap Dewi.

Di antara kasus kekerasan seksual di Parepare yang masih hangat menjadi perbincangan ialah kasus persetubuhan anak 14 tahun, dimana pelakunya ada 7 orang. 2 di antara pelaku merupakan anak di bawah umur.

Baca Juga :  Rombongan Kapolres Maybrat Papua Barat Ditembaki, Polisi: Masih Dalam Penyelidikan

Selain itu ada juga kasus perdagangan anak di bawah umur, yang tersangkanya ialah seorang mucikari inisial (SR). Polisi sudah menggali keterangan SR, dan dia mengaku melakukan perbuatannya itu hanya seorang diri.

“Untuk kasus perdagangan anak di bawah umur, kami sudah memiliki dua korban dalam kasus ini. Kita tidak bisa menduga-duga apakah SR ini bekerja sendiri atau memiliki jaringan lain, kami harus menemukan bukti, masih dalam proses pengembangan,” jelas Dewi.