OPINI : Problematika PSBB Dan Herd Immunity

Mufhida Adelia Putri, Mahasiswi Jurusan Sosiologi Universitas Negeri Makassar
Mufhida Adelia Putri, Mahasiswi Jurusan Sosiologi Universitas Negeri Makassar.

Timbulnya Pro dan Kontra terhadap kebijakan Pemerintah dalam memberlakukan PSBB di Provinsi yang telah menjadi zona merah menjadi dasar pembahasan pada kesempatan ini. Di kalangan masyarakat sendiri pemberlakuan Pembatasan Berskala Besar menjadi momok yang menakutkan khususnya masyarakat menengah ke bawah, sebab hal ini memberikan dampak begitu besar bagi ekonomi masyarakat.

Dengan hal tersebut banyak perusahaan yang melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dengan berdalih adanya kebijakan Pemerintah memberlakukan PSBB.

Di masa sekarang memang sulit untuk bisa bertahan dalam kondisi seperti ini oleh karena itu timbul pro dan kontra di kalangan masyarakat, antara lain pihak yang mendukung PSBB setuju sebab untuk mempercepat dalam memutus rantai Covid-19 akan tetapi banyak juga pihak yang menolak diberlakukannya PSBB dengan berbagai macam pendapat yang muncul.

Dari Pro Kontra kebijakan pemerintah hingga saat ini banyak pandangan masyarakat menilai bahwa penerapan PSBB tidak begitu mengurangi angka dari penyebaran virus tersebut.

Menurut penulis ada beberapa sebab yang membuat pembatasan berskala besar tidak efektif dan tidak berjalan secara maksimal di lapangan.

Pertama, soal tak adanya larangan mudik meski adanya pembatasan, apalagi menjelang lebaran seperti ini banyak masyarakat yang tidak mengindahkan anjuran Pemerintah untuk tidak mudik tetapi realita di lapangan masih sangat banyak masyarakat yang bandel.

Kedua, karena tingkat kedisiplinan masyarakat relatif rendah.

Ketiga, komunikasi dan sosialisasi yang dilakukan Pemerintah masih belum masif sebab hingga saat ini masih ada masyarakat yang menganggap remeh.

Hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020 yang menjadi dasar Pemerintah Daerah dalam memberlakukan PSBB. Kebijakan yang diambil oleh pemerintah saat ini dinilai belum bisa mengakomodasi permasalahan Pandemi Covid-19 baik dari tataran sosial maupun ekonomi.

Di tataran sosial sendiri masyarakat merasa membutuhkan motivasi dan semangat moril dari pemerintah, bukan cuma diharuskan untuk berdiam diri di rumah tetapi motivasi untuk membangun kembali roda perekonomian dengan membantu UKM menghidupkan kembali usahanya dan Membangkitkan kembali pendidikan demi terciptanya anak bangsa yang cerdas ditengah kondisi Pandemi seperti ini.

Mengambil kutipan dari Abraham Maslow terkait dengan motivasi dapat diartikan sebagai sebuah kekuatan atau energi seseorang yang menimbulkan tingkat persistensi dalam melakukan sebuah kegiatan baik yang bersumber dari dalam diri maupun di luar individu.

Sejalan dengan pendapat penulis bahwa dalam hal ini pemerintah harus mengakomodir baik kebutuhan materiil maupun Non-materiil sebab di masa seperti ini masyarakat khususnya anak yang bersekolah sangat merasakan dampak dari Pandemi ini, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi tidak dapat bertatap muka langsung dengan guru maupun dosen.

Menurut penulis kebijakan yang lebih tegas harus berani diambil oleh pemerintah dalam menangani permasalahan yang amat serius atau dapat dikatakan

Kita tahu PSBB merupakan sebuah penyelenggaraan pembatasan sosial berskala besar. Dimana gambarannya pembatasan kegiatan-kegiatan yang sifatnya berkumpul secara acak, selain itu beberapa sektor industri yang sementara tidak bisa beroperasi. Belum lagi persoalan banyaknya karyawan yang mengalami PHK sehingga mereka kehilangan pekerjaannya ditengah situasi yang begitu sulit.

Belum lagi baru-baru ini pimpinan negara mengatakan bahwa kita harus berdamai dengan covid-19, kita bisa melihat pemerintah berusaha ingin menerapkan Herd Immunity. Salah satu negara yang sudah memberlakukan program Herd Immunity adalah Swedia, tetapi program itu tak berhasil untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Banyak yang mengatakan ketika kita memberlakukan Herd Immunity itu sama saja dimana masyarakat akan berlomba untuk mati (genosida).

Kemudian pemberlakuan pembatasan berskala besar dinilai masih jauh dari kata efektif sebab pemerintah masih menganggap remeh dan terlalu lama membuat sebuah aturan. Pro dan kontra yang timbul di masyarakat terkait PSBB masih menjadi pembahasan yang hangat untuk diperbincangkan, timbul pertanyaan apakah kebijakan ini telah berjalan dengan baik atau mala sebaliknya?

Sebagai penutup, penulis berharap semua elemen baik pemerintah maupun masyarakat dapat bergandengan dalam mengatasi Pandemi ini. Karena percuma jika pemerintah telah melakukan aturan yang tegas tetapi dengan culture masyarakat kita yang jauh dari kata sadar tidak bisa terlaksana dengan baik. Kita semua berharap bahwa Pandemi covid-19 ini dapat hilang dari bumi Indonesia dan dapat memulai kembali tatanan kehidupan yang lebih baik, walaupun sangat sulit tapi harapan tersebut harus tetap ada dan jangan menganggap remeh permasalahan ini.

loading...