Kadispar: Kurangi Bermain Gadjet, Hadirkan Game Tradisional di Ekstarkurikuler

Kepala dinas Pariwisata Kota Makassar, Ir.Hj. Rusmayani Madjid (BERITA.NEWS/Ratih Sardianti Rosi).

Kepala dinas Pariwisata Kota Makassar, Ir.Hj. Rusmayani Madjid (BERITA.NEWS/Ratih Sardianti Rosi).

BERITA.NEWS, Makassar – Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Makassar kembali menggelar Makassar Tradisional Games Festival (MTGF) 2019 di Fort Rotterdam, Sabtu (26/20/2019).

Makassar Traditional Games Festival adalah kegiatan rutin yang diadakan oleh komunitas Jalan-Jalan Seru Makassar yang digagas pertama kali oleh Rere Alfarezi selaku founder Jalan-Jalan Seru pada tahun 2012.

Kali ini, MTGF yang bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Kota Makassar hadir dengan penyajian yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yaitu pembawaan sajian dalam bentuk Orkes Turiolo (ansambel). 

Kepala dinas Pariwisata Kota Makassar, Ir.Hj. Rusmayani Madjid mengatakan, kegiatan ini dilakukan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat utamanya anak kecil tentang permainan-permainan tradisional yang dulu pernah ada di kota makassar.

“Kegiatan ini menjadi support kita sudah selama lima tahun berturut turut yang ke depan, kita akan melepaskan mereka secara mandiri, karena kita beranggap selama lima tahun kita support ini, sudah semakin baik semakin dipercaya oleh sponsor dan sebagainya dan sudah punya standar sehingga event-event yang ada di kota makassar sudah banyak yang punya standar,” imbuhnya.

Kadispar yang akrap disapa Maya itu mengaku akan terus mensupport apa yang menjadi lanjutan dari event tersebut, seperti pembuatan cendera mata sebagai penghargaan kepada pemain game tradisional.

“Nanti ada buku literatur tentang kegiatan ini dan surat edaran dari pak wali misalnya ke dinas pendidikan untuk supaya menjadikan permainan tradisional ini menjadi salah satu mata pelajaran ekstrakurikuler sehingga ini bisa lebih memasyarakat,” kata Maya.

Maya berharap, game tradisional ini bisa terus berkembang di Indonesia khususnya di Kota Makassar. 

“Kalaupun ada orang yang bisa bikin aplikasi game, untuk mmm permainan tradisional kenapa tidak gitu. jangan hanya permainan-permainan dari barat saja ya, tapi ada baiknya mungkin dari permainan-permainan tradisional yang bisa dibikin aplikasi dalam bentuk game,” ungkapnya.

Selain itu, tambah Maya, melihat dampak yang positif dari game tradisional ini menginisiasi Dispar untuk menggelar MTGF yang sudah digelar delapan tahun berturut-turut.

“Sekarang anak-anak kan hanya main gadget saja, jadi hanya satu arah sehingga kepedulian terhadap sesamanya semakin berkurang, mereka lebih sendiri-sendiri semantara permainan tradisional itu mengerjarkan kerja sama dengan orang lain, mempunyai empati dengan orang lain, nah seperti itu harapan kami,” tambahnya.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini (26-27 oktober) menampilkan 14 game tradisional, antaranya gebo-gebo, cangkeh, dende-dender, main kelereng, dan tradisional.

  • Ratih Sardianti Rosi

Comment