Aksi Brutal Polisi Pukul Jurnalis Hingga Tendang Mahasiswa di Dalam Masjid Saat Demo di Makassar

Jurnalis Antara News saat dipukul Polisi saat meliput demo di Makassar (IST)

BERITA.NEWS, Makassar – Puluhan ribu mahasiswa diseluruh Indonesia turun aksi serentak menolak revisi RUU KUHP dan Revisi UU KPK yang dilakukan DPR RI.

Mereka meminta DPR dan pemerintah untuk membatalkan revisi undang-undang itu. Aksi yang dilakukan oleh mahasiswa berakhir ricuh.

Salah satunya di Makassar, Sulawesi selatan (Sulsel). Ribuan Mahasiswa yang ada di Makassar melakukan aksi di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulsel.

Namun sayang, aksi yang semulanya baik-baik saja berakhir ricuh. Mahasiswa bentrok dengan Polisi, terlihat mahasiswa melempar batu kearah aparat. Sementara Polisi memukul mundur Mahasiswa dengan tembakan gas air mata pada siang hari.

Jurnalis Jadi Korban Pengeroyokan Polisi

Puluhan jurnalis lokal maupun nasional turut meliput aksi demonstrasi Mahasiswa tersebut. Saat liput, tiga jurnalis jadi korban pengeroyokan oleh aparat Kepolisia karena mengambil gambar.

Ketiga Jurnalis itu yakni Muhammad Darwin Fathir jurnalis ANTARA, Saiful jurnalis inikata.com (Sultra) dan Ishak Pasabuan jurnalis Makassar Today.

Dari video yang beredar, Ketiganya mendapat perlakukan fisik dari aparat kepolisian saat menjalankan kerja-kerja jurnalistik dalam meliput aksi di lokasi tersebut. Darwin dikeroyok oleh polisi di depan kantor DPRD Sulsel.

Dia ditarik, ditendang dan dihantam menggunakan pentungan di tengah-tengah kerumunan polisi. Padahal dalam menjalankan tugas jurnalistiknya Darwin telah dilengkapi dengan atribut dan identitas jurnalis berupa ID Card ANTARA.

Rekaman video membuktikan tindakan bar-bar aparat kepolisian terhadap Darwin. Sejumlah rekan jurnalis yang saat itu berusaha melerai tindakan kepolisian terhadap Darwin sama sekali tak diindahkan.

Baca Juga :  30 Jalan Umum di Jakarta Barat Terendam Banjir

Polisi Menangkap dan Memukul Mahasiswa di Dalam Masjid

Aparat polisi mengejar dan menangkap Mahasiswa di dalam Masjid. Video itupun beredar di grup-grup WA. Polda Sulsel membenarkan peristiwa tersebut.

Ada dua video yang beredar, berdurasi 7 detik dan 22 detik. Dua video tersebut menggambarkan beberapa polisi membawa tongkat, tameng, mengenakan helm dan bersepatu menangkap sejumlah orang yang diduga mahasiswa pendemo di dalam masjid.

Suara perempuan berlogat khas Makassar terdengar dari video tersebut. Polisi membenarkan peristiwa itu.

Malam Hari Polisi Sisir Kampus di Makassar

Tak sampai disitu, pihak Polisi bergerak cepat dengan menyisir beberapa kampus di Makassar. Aparat masuk kampus untuk menyisir mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi siang hari. Polisi pun bertindak tegas dengan Mahasiswa yang turun aksi.

Polda Sulsel Minta Maaf Atas Perbuatan Anak Buahnya

Polda Sulsel pun meminta maaf atas insiden tersebut. Polda menganggap kejadian bermula saat mahasiswa masuk Masjid.

“Sehubungan hal tersebut, Polda Sulsel mohon maaf yang sebesar-besarnya atas insiden tersebur,” tulis Polda Sulsel.

Aji Makassar Kecam Aksi Brutal Polisi

Aliansi Jurnalis Independen Makassar mengutukm keras aksi brutal yang dilakukan oleh oknum Polisi.

Ketua AJI Makassar, Nurdin Amir menilai kekerasan pemukulan dan intimidasi yang dilakukan aparat kepolisian terhadap wartawan melanggar Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers. Pasal 8 UU Pers menyatakan dalam menjalankan profesinya jurnalis mendapat perlindungan hukum.

UU Pers juga mengatur sanksi bagi mereka yang menghalang-halangi kerja wartawan. Pasal 18 UU Pers menyebutkan, ”Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berkaitan menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat 2 dan ayat 3 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp500 juta.”

Baca Juga :  Ombudsman Makassar Sasar Madrasah Sosialisasi Pengawasan Pelayanan Publik

AJI Makassar juga mendesak Kepolisian memproses tindakan kekerasan tersebut. Sikap tegas dari penegak hukum diharapkan agar peristiwa serupa tidak terulang.

“Tiga korban dipukul aparat kepolisian Saat melakukan tugasmu. Kita tunggu sikap tegas pihak kepolisian, proses hukum harus berjalan dan tidak boleh pandang bulu,” tegas Nurdin Amir.

Atas intimidasi dan kekerasan terhadap jurnalis tersebut, AJI Makassar menyerukan dan menyatakan:

Mengecam keras tindakan intimidasi dan kekerasan yang dilakukan oleh Aparat Kepolisian terhadap 3 jurnalis yang melakukan kerja-kerja jurnalistik/peliputan di Gedung DPRD Sulsel.

Mendesak Kapolda Sulsel memproses tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum aparat kepolisian dan diadili di pengadilan hingga mendapatkan hukuman seberat-beratnya agar ada efek jera. Sehingga kasus serupa tak terulang di masa mendatang.

Mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus-kasus kekerasan terhadap jurnalis sebelumnya. Sebab, hingga kini belum ada kasus kekerasan terhadap jurnalis yang tuntas sampai pengadilan.

Mengimbau masyarakat agar tidak melakukan intimidasi, persekusi dan kekerasan terhadap jurnalis yang sedang liputan atau karena pemberitaan.

Laporan Tim Redaksi Berita.News

loading...